G
N
I
D
A
O
L

Dari Kampus ke Dunia Kerja: Alumni Berbagi Ilmu HIRADC dalam Workshop K3

Serang, 29 November 2025


Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di berbagai sektor industri, Ikatan Alumni Universitas Faletehan (IKAFA) bersama PT Garuda Systrain Interindo menggelar Workshop & Sharing Session bertema Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) pada Sabtu, 29 November 2025. Kegiatan yang dipusatkan di Gedung C, Ruang C-305 hingga C-307 Universitas Faletehan ini menjadi salah satu agenda terbesar IKAFA pada tahun 2025, diikuti 247 peserta yang terdiri atas alumni, mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, serta Fakultas Sains dan Teknik.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yang memiliki reputasi kuat di bidang K3, yaitu Fachmi Dwi Tama, praktisi HSE dengan tujuh tahun pengalaman profesional; Ervani Sultoni, Senior Occupational Health and Safety Environment; dan Septyan Maulana, seorang K3 Supervisor yang juga merupakan alumni Universitas Faletehan dan praktisi aktif di PT Garuda Systrain Interindo. Ketiganya berbagi wawasan mendalam mengenai urgensi HIRADC dalam sistem manajemen K3 modern, sekaligus memberikan gambaran langsung tentang tantangan dunia kerja yang sesungguhnya.

Antusiasme Peserta Menggambarkan Tingginya Minat terhadap Kompetensi K3

Sejak pagi, ratusan mahasiswa dan alumni terlihat memenuhi area registrasi. Mereka datang dengan motivasi tinggi untuk memperdalam pemahaman tentang HIRADC, sebuah kompetensi yang semakin menjadi standar dalam pekerjaan industri, konstruksi, kesehatan, dan energi. Banyak peserta yang mengungkapkan bahwa workshop ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja.

Antusiasme tersebut tidak terlepas dari relevansi topik yang dibawakan. HIRADC merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan langkah pengendalian yang tepat. Proses ini menjadi fondasi utama dalam Occupational Health and Safety Management System (OHSMS) yang diterapkan di berbagai perusahaan modern. Dengan perkembangan standar global seperti ISO 45001, kemampuan melakukan HIRADC bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi menjadi keharusan bagi para calon pekerja profesional.

Alumni Harus Menjadi Kekuatan Bersama

Ketua Ikatan Alumni Universitas Faletehan, Eri Sunarya, membuka sesi sambutan dengan menegaskan pentingnya peran alumni dalam membangun ekosistem pengembangan karir yang kuat. Beliau menjelaskan bahwa IKAFA dibentuk bukan hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bersama bagi seluruh lulusan Universitas Faletehan.

Eri Sunarya menyampaikan bahwa dunia kerja saat ini menuntut kesiapan kompetensi yang lebih matang. Melalui kegiatan seperti workshop ini, IKAFA ingin menghadirkan gambaran nyata tentang persaingan serta dinamika industri K3. Beliau menambahkan bahwa salah satu harapan besar ke depan adalah terbangunnya budaya berwirausaha di kalangan alumni, terutama di sektor-sektor strategis seperti pelatihan K3, konsultan lingkungan, hingga jasa keselamatan kerja.

“IKAFA harapannya dapat menjadi tempat tumbuh bersama. Dalam acara ini, kami ingin memberikan gambaran dunia kerja khususnya bidang K3. Ke depan, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran berwirausaha agar alumni Faletehan siap bekerja dan siap menciptakan lapangan kerja,” ujarnya dalam sambutan.

Pernyataan tersebut mendapatkan sambutan positif dari peserta, terutama alumni muda yang sedang merintis karir profesional. Mereka menilai IKAFA memiliki posisi strategis untuk memperkuat jejaring, membuka kesempatan kerja, serta mengembangkan program peningkatan kompetensi seperti pelatihan bersertifikat.


PPKL sebagai Wadah Strategis Penguatan Karir Lulusan

Acara secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Faletehan, Ns. Fatoni, Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa alumni memiliki peran strategis dalam memperkuat reputasi dan perkembangan institusi. Beliau menyebut bahwa keterlibatan aktif alumni dalam dunia kerja, industri, dan masyarakat dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas lulusan.

Fatoni menegaskan bahwa masa transisi dari bangku kuliah menuju dunia kerja tidak boleh dianggap remeh. Oleh karena itu, Universitas Faletehan telah mengembangkan Pusat Pengembangan Karir Lulusan (PPKL), sebuah unit yang bertugas memperluas akses informasi terkait magang, pelatihan, peningkatan keterampilan, hingga peluang kerja. Melalui PPKL, mahasiswa dan alumni dapat memperoleh pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing mereka.

“Lulusan perlu dibekali keterampilan khusus yang menunjang keahlian, seperti sertifikasi Ahli K3 Umum, sehingga mereka lebih kompetitif dan mampu memperoleh penghasilan yang layak. Alumni juga harus terus memberikan testimoni dunia kerja agar adik-adiknya mendapatkan gambaran jelas tentang kompetensi yang dibutuhkan,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan lulusan mampu beradaptasi secara profesional. Dunia kerja saat ini semakin menuntut kompetensi terukur, dan pelatihan seperti HIRADC menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat profesionalisme.

Materi Narasumber: Pengalaman Lapangan sebagai Sumber Ilmu Berharga

Setiap narasumber membawakan materi secara mendalam berdasarkan pengalaman lapangan mereka selama bertahun-tahun. Fachmi Dwi Tama membuka sesi dengan memperkenalkan konsep dasar HIRADC serta bagaimana proses identifikasi bahaya harus dilakukan secara komprehensif. Ia menekankan bahwa banyak kecelakaan kerja terjadi bukan karena kurangnya SOP, tetapi karena ketidakmampuan pekerja mengidentifikasi potensi bahaya dengan tepat.

Sesi dilanjutkan oleh Ervani Sultoni, yang memaparkan metode penilaian risiko dan strategi menentukan prioritas pengendalian. Pengalaman panjangnya sebagai praktisi senior membantu peserta memahami contoh kasus nyata yang pernah terjadi di industri migas, manufaktur, dan konstruksi. Penjelasannya memperlihatkan bahwa penilaian risiko bukan hanya analisis teknis, tetapi melibatkan pengambilan keputusan yang kritis.

Narasumber terakhir, Septyan Maulana, menutup rangkaian materi dengan memberikan gambaran tentang praktik terbaik (best practices) dalam implementasi pengendalian risiko. Ia menunjukkan bagaimana perusahaan modern semakin berfokus pada budaya keselamatan dan penggunaan teknologi berbasis data untuk memperkuat evaluasi risiko.

Para peserta tampak aktif mengikuti sesi tanya jawab. Banyak dari mereka yang bertanya mengenai peluang karir di bidang K3, standar kompetensi yang dibutuhkan, hingga perbandingan antara HIRADC dan berbagai metode analisis risiko lain.

Dekan FIKes: Serap Ilmu, Bangun Kesiapan Profesional

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Faletehan menyampaikan pesan penting kepada seluruh peserta. Beliau menegaskan bahwa kehadiran tiga narasumber yang telah sukses berkarir merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa dan alumni. Pengalaman lapangan yang dibagikan merupakan sumber pengetahuan yang tidak bisa diperoleh hanya dari modul atau perkuliahan.

“Saya berharap peserta memanfaatkan forum ini sebaik-baiknya. Pengalaman para narasumber adalah ilmu yang sangat berharga. Belajarlah, bertanyalah, dan serap sebanyak mungkin insight agar ke depan Anda siap menghadapi tantangan profesional yang semakin kompleks,” tegasnya.

Beliau juga menekankan bahwa bidang K3 adalah sektor yang berkembang pesat, terutama seiring dengan meningkatnya regulasi keselamatan kerja dan tuntutan perusahaan terhadap sertifikasi profesional.


Kegiatan Strategis untuk Memperkuat Jejaring dan Kompetensi

Workshop dan Sharing Session HIRADC ini membuktikan bahwa sinergi antara alumni, mahasiswa, dan institusi dapat menghasilkan program yang berdampak nyata. Selain memperkaya kompetensi teknis, kegiatan ini juga memperluas jejaring profesional antaralumni dan membuka peluang kolaborasi dengan dunia industri, termasuk PT Garuda Systrain Interindo yang selama ini dikenal sebagai mitra pelatihan K3 berskala nasional.

Dengan dihadiri ratusan peserta, acara ini menandai semakin kuatnya budaya profesionalisme dan kesiapan kerja di lingkungan Universitas Faletehan. Melalui program semacam ini, IKAFA dan Universitas Faletehan memberikan pesan tegas bahwa lulusan tidak hanya harus cerdas secara akademik, tetapi juga terampil, adaptif, dan siap berkompetisi di dunia kerja modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *