Serang, 22 Oktober 2025 — Universitas Faletehan kembali menjadi tuan rumah kegiatan nasional yang strategis bagi calon tenaga kesehatan Indonesia. Pada hari Rabu, 22 Oktober 2025 pukul 09.00 WIB, bertempat di Gedung C Universitas Faletehan, dilaksanakan kegiatan Penyebarluasan Informasi Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Skema Government to Private (G to P) Amerika Serikat. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Penempatan Pemerintah Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Karir dan Lulusan (PPKL) Universitas Faletehan.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 150 peserta yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Diploma III Keperawatan dan Program Studi Profesi Ners. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan motivasi kepada calon tenaga kesehatan, khususnya perawat, agar siap bersaing di pasar kerja global melalui jalur penempatan resmi pemerintah.
Pembukaan dan Sambutan Pimpinan
Acara dimulai dengan pembacaan doa dan dilanjutkan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan Kepala BP3MI Banten, yaitu Berliandi, S.H., M.M., yang mewakili Kepala BP3MI. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penempatan Pemerintah KP2MI atas kunjungan dan kerjasama yang baik dengan Universitas Faletehan. “Terima kasih kepada Universitas Faletehan yang telah menjadi tuan rumah kegiatan hari ini. Kolaborasi seperti ini penting untuk menyiapkan generasi tenaga kesehatan Indonesia agar mampu bersaing di dunia internasional,” ujarnya.
Selanjutnya, sambutan kedua sekaligus pembukaan acara disampaikan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Faletehan, Ns. Fatoni, Ph.D., mewakili Rektor Universitas Faletehan. Dalam sambutannya, Fatoni memperkenalkan profil Universitas Faletehan yang kini memiliki lima fakultas, termasuk Fakultas Ilmu Kesehatan sebagai salah satu fakultas terbesar. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan BP2MI yang telah memilih Universitas Faletehan sebagai mitra dalam kegiatan strategis ini.
“Kami berharap kerja sama ini dapat membuka lebih banyak peluang kerja luar negeri bagi lulusan seluruh program studi di Universitas Faletehan,” tutur Fatoni. Ia juga menggarisbawahi beberapa tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan siap kerja global, yakni: izin keluarga bagi mahasiswa untuk bekerja ke luar negeri, kesiapan mental dan fighting spirit yang masih perlu diperkuat, serta penguasaan bahasa asing.
“Universitas Faletehan telah berupaya menyiapkan mahasiswa melalui kerja sama dengan beberapa Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan lembaga bahasa. Kami berharap BP2MI dapat terus mendukung arah tersebut,” ujarnya menutup sambutan.
Paparan dari Direktorat Penempatan Pemerintah BP2MI
Paparan utama disampaikan oleh Dyah Rejeki Ningrum, Dra., M.M., selaku Direktur Penempatan Pemerintah (BP2MI). Dalam paparannya, Dyah menjelaskan berbagai skema penempatan tenaga kerja luar negeri melalui jalur resmi pemerintah, baik yang bersifat Government to Government (G to G) maupun Government to Private (G to P).
Ia memaparkan bahwa skema G to G yang telah berjalan mencakup beberapa negara prioritas seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman, sedangkan skema G to P saat ini tengah difokuskan untuk penempatan tenaga kesehatan, khususnya perawat, ke Amerika Serikat.
Untuk skema G to G, Dyah menjelaskan bahwa kerja sama dengan Korea Selatan masih difokuskan pada sektor non-kesehatan seperti perikanan dan manufaktur, dengan rata-rata gaji mencapai 23 juta rupiah per bulan. Sementara untuk Jepang, BP2MI telah memberangkatkan lebih dari 4.000 care worker dan perawat profesional dengan gaji yang juga setara 20–23 juta rupiah per bulan.
Program ke Jerman mulai berjalan sejak 2021, dengan model pelatihan bahasa yang kini menggunakan sistem reimbursement (biaya diganti setelah sertifikasi). Target bahasa yang harus dicapai adalah sertifikasi B1, dengan gaji mencapai 2.300 Euro per bulan.
Sementara untuk Amerika Serikat, Dyah menegaskan bahwa saat ini sedang dibuka pendaftaran calon perawat Indonesia dalam skema G to P. Program ini diperuntukkan bagi profesi Ners, dengan syarat memiliki Surat Izin Mengemudi Internasional, kemampuan Basic Life Support (RJP/PPGD), dan sertifikat bahasa Inggris dengan skor IELTS minimal 6.5. Gaji yang ditawarkan mencapai 7.000 USD per bulan, dengan kontrak kerja selama tiga tahun.
Namun, Dyah menjelaskan bahwa biaya keberangkatan tidak ditanggung oleh pemerintah AS, melainkan oleh peserta. “Seluruh biaya ditanggung calon pekerja, tetapi difasilitasi oleh BP2MI melalui jalur resmi dan aman,” jelasnya.
Tanya Jawab Interaktif dan Antusiasme Mahasiswa
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung dinamis. Para mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengetahui peluang, prosedur, dan persyaratan kerja ke luar negeri. Rizkia Fatia dari Program Studi D3 Keperawatan bertanya tentang durasi pelatihan di Manila dan biaya keberangkatan. Dyah menjawab bahwa pelatihan di Manila dilakukan setelah peserta lulus seleksi di Indonesia, dengan biaya sekitar 34 juta rupiah, ditanggung oleh calon pekerja. “Namun tiket dan visa ditanggung oleh pihak Amerika Serikat. Calon pekerja juga difasilitasi akomodasi awal dan bisa memanfaatkan program KUR PMI dari perbankan sebagai dana talangan,” jelasnya.
Pertanyaan lain datang dari Aisyah, yang menanyakan pembukaan pendaftaran berikutnya. Dyah menjawab bahwa program G to P Amerika akan kembali dibuka pada tahun 2026 setelah seleksi batch pertama selesai. Sementara itu, Sondang Sianturi bertanya mengenai pemeriksaan kesehatan (MCU) dan potongan gaji di luar negeri. Dyah menjelaskan bahwa tidak ada syarat khusus terkait tinggi badan atau berat badan, namun peserta harus bebas dari penyakit menular. Gaji yang diterima di luar negeri sudah dikurangi pajak dan iuran asuransi kesehatan serta dana pensiun, sesuai regulasi negara tujuan.
Menutup paparannya, Dyah berpesan agar mahasiswa menyiapkan diri sejak dini. “Kunci sukses bekerja di luar negeri bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga soft skill, etika, dan disiplin. Dunia kerja internasional menghargai profesionalisme, bukan sekadar ijazah,” tegasnya.
Pesan Penutup dan Harapan Fakultas
Dalam sesi penutup, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Faletehan, Ahmad Jubaedi, SKM., MKM., menyampaikan apresiasi kepada KP2MI atas inisiatif yang membuka wawasan mahasiswa terhadap peluang global. “Satu pintu karier sudah terbuka. Sekarang tugas kita adalah mempersiapkan diri untuk melewatinya. Jangan takut bermimpi besar. Dunia luar menanti tenaga kesehatan Indonesia yang berkompeten,” ujarnya.
Ahmad juga berpesan agar mahasiswa terus meningkatkan kemampuan bahasa asing, membangun mental tangguh, dan menjaga semangat profesionalisme. “Jadilah generasi yang siap bersaing dengan kualitas, bukan hanya kuantitas,” tambahnya.

Penutup: Sinergi Kampus dan Pemerintah untuk Tenaga Kesehatan Global
Acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari Evi Ruspiana, selaku Koordinator Penempatan Luar Negeri – Pusat Pengembangan Karir Lulusan (PPKL) Universitas Faletehan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja global.
“Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut agar semakin banyak lulusan Faletehan yang bisa berkiprah di luar negeri melalui jalur resmi pemerintah,” ujar Evi.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Universitas Faletehan menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan akademik, tetapi juga pada pengembangan karier dan daya saing global bagi lulusan, khususnya di bidang keperawatan dan kesehatan.
Acara diakhiri dengan foto bersama antara pimpinan BP2MI, jajaran pimpinan Universitas Faletehan, dosen, dan mahasiswa peserta sosialisasi, menandai komitmen bersama untuk melahirkan generasi tenaga kesehatan Indonesia yang siap mengglobal.
