Artikel

HIGENE SANITASI DAN PENGGUNAAN FORMALIN PADA PEDAGANG TAHU PASAR TRADISIONAL

    Dibaca 417 kali PSKM Kesehatan Masyarakat

Oleh:

Apriya Mutia

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Faletehan

 

Latar Belakang

 

Tahu sebagai prodak olahan kedelai merupakan produk makanan yang rentan mengalami kerusakan dan pembusukan. Produsen dan pedagang tahu dengan pertimbangan ekonomis dan praktis menambahkan bahan pengawet seperti formalin agar lebih tahan lama.

Formalin merupakan bahan pengawet mayat, dan dilarang penggunaanya. Pedagang pasar tidak mengetahui bentuk, sifat dan kegunannya, tetapi mengerti formalin berbahaya bagi manusia, dengan keyakinan tidak berefek pada kesehatan. Adanya pemahaman bahwa formalin dalam jumlah kecil tidak berdampak kesehatan. Sikap merupakan faktor pendorong seseorang untuk berperilaku baik. Sikap tidak baik bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Upaya untuk meningkatkan pendidikan dan kesadaran pedagang tahu mengidentifikasi formalin, bahaya penggunaan dan pengolahan makanan dapat meningkatkan keamanan bahan pangan dan kesehatan masyarakat.

Peran pemerintah untuk penegakan hukum, pembinaan pedagang dan produsen tahun mencegah pemakaian bahan pengawet pangan. Pencegahan dan pengendalian dilakukan instansi kesehatan, Badan POM daerah, Dinas Perindustrian dan keterlibatan komunitas daerah.

 

Hasil Kajian

Hasil penelitian yang dilakukan di Pasar Tradisional Kota Serang sebanyak 43 sampel tahu menunjukkan bahwa sebanyak 29 sampel tahu positif formalin (67,4%) dan (32,6%) negatif formalin.(Hayat & Darusmini, 2021)

Hasil analisis diketahui bahwa dari 43 sampel tahu di pasar tradisional Kota Serang, sebanyak 29 sampel tahu (67,4%) positif mengandung formalin terdapat di Pasar lama sebanyak 3 sampel tahu (60%), pasar taman sari sebanyak 6 sampel tahu (75%), pasar rau sebanyak 20 sampel tahu (74,1%), dan pasar kalodran dari tiga sampel tahu seluruhnya negatif tidak mengandung formalin.(Hayat & Darusmini, 2021)

Kebersihan pasar tradisional terkait pedagang tahu haruslah diperhatikan personal hyigene dan sanitasi lingkungan pasar tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan (26,7%) dan keterampilan mencuci tangan sangat baik (8,3%), efektif untuk meningkatkan keterampilan cuci tangan yang benar  (p= 0,000) pada taraf signifikan = 0,05.(Hayat, 2021)

Upaya pengelolaan limbah padat di pasar tradisional merupakan tindakan pengendalian risiko infeksi yang dilakukan oleh seluruh pedagang tahu di pasar tradisional untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan, melindungi pekerja dan masyarakat dari bahaya kesehatan.(Hayat, 2015) Hasil penelitian menunjukkan faktor predisposing, reinforcing dan enabling mempunyai pengaruh terhadap praktik pengolahan limbah padat.(Hayat, 2012)

 Analisis jumlah total dan fekal coliform menggunakan metode Most Probable Number (MPN) dan metode STORET untuk penentuan status kualitas air. Jumlah total coliform bervariasi dari 2400-9200 MPN/100 ml. Total koliform maksimum ditemukan sebesar 9200 MPN/100 ml. Jumlah koliform tinja bervariasi dari 1300-6400 MPN/100 ml. Kualitas air penting dikelola dalam rangka hiyigene dan sanitasi air yang memadai.(Hayat & Kurniatillah, 2021)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air terkait kadar klor bebas (Cl2) penting di ketahui sebagai indikator kualitas air bersih yang di konsumsi oleh para pedagang tahu, dimana rata-rata kadar klor bebas tersebut sebesar (0.28 mg/L-0,335 mg/L).(Hayat, 2020)

Dalam hal pengendalian vektor penyakit, pentingnya pengelolaan pasar tradisional dalam rangka pencegahan penyakit berbasis vektor. Vektor nyamuk salah satunya adalah nyamuk DBD dan malaria perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian.(Hayat & Kurniatillah, 2009)

 

Kesimpulan

Pentingnya hyigene dan sanitasi termasuk pelarangan penggunaan formalin tahu di pasar tradisional dalam rangka mencegah terjadinya penyakit pada masyarakat.

 

Referensi

Hayat, F. (2012). Pengaruh predisposing factor, Enable factor, Reinforcing factor terhadap praktik keselamatan kerja pada tenaga kesehatan dalam pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Wilayah Kota Cilegon tahun 2011. In Unpad Repository. Unpad.

Hayat, F. (2015). Analisis faktor pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Faletehan Health Journal, 3, 146–151.

Hayat, F. (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM), 2(2), 64–69.

Hayat, F. (2021). THE EFFECT OF EDUCATION USING VIDEO ANIMATION ON ELEMENTARY SCHOOL IN HAND WASHING SKILL. Acitya: Journal of Teaching and Education, 3(1), 44–53.

Hayat, F., & Darusmini, D. (2021). ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN FORMALIN PADA PEDAGANG TAHU DI PASAR TRADISONAL KOTA SERANG. Jurnal Surya Muda, 3(2), 121–132.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2009). Situasi Malaria di Kabupaten Lebak. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 3(6), 259–263.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2021). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. The First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020), 198–200.