Artikel

KONDISI SANITASI PASAR TRADISIONAL

    Dibaca 294 kali PSKM Kesehatan Masyarakat

Oleh:

Eka Putri

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Faletehan

 

Latar Belakang

Pasar merupakan salah satu pusat aktivitas sosial dan ekonomi, dimana para penjual dan masyarakat bertemu melakukan transaksi jual dan beli. Namun demikian, ternyata pasar juga merupakan tempat transmisi penyebaran penyakit menular. Risiko penularan penyakit potensial wabah yang dapat terjadi di pasar antara lain; Food Borne Disaeses, Water Borne Diseases, Air Borne Diseases serta penyakit yang saat ini menjadi isu dunia yaitu Flu Burung dan E.coli strain baru yang berbahaya dan mematikan.

Dilihat dari aspek higene dan sanitasi pasar, terdapat berbagai masalah, umumnya berkaitan dengan kebersihan, kenyamanan, bangunan yang kurang terawat, saluran drainase yang kurang baik serta minimnya alat-alat penunjang seperti tempat sampah dan alat pemadam kebakaran. Upaya pengelola dalam mengurangi risiko dirasakan masih kurang, dan buruknya perilaku pengguna pasar yaitu pedagang maupun pembeli bisa menambah buruk kinerja pengelolaan. Kewaspadaan pihak pengelola pasar dalam menghadapi bahaya kebakaran yang mungkin saja terjadi dan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk membutuhkan tanggung jawab dan perhatian yang serius. Seluruh pasar tradisional di Indonesia masih bergelut dengan masalah internal pasar seperti buruknya manajemen pasar, sarana dan prasarana pasar yang sangat minim.

Pengembangan pasar sehat merupakan strategi sebagai upaya memperkuat biosekuriti pada rantai pangan yang akan menigkatkan keamanan pangan sejak produksi hingga konsumis, mendidik produsen pemasok, pedagang, konsumen, dan sebagai konsekuensinya, kesadaran mereka akan meningkat terhadap risiko keamanan pangan seperti kontaminasi silang, penularan penyakit-penyakit yang dihantarkan pangan dan perilaku berisiko tinggi.

 

Hasil Kajian

Gambaran kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Banyak pasar tradisional di Jabodetabek, misalnya yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. Di Jakarta saja berdasarkan catatan PD Pasar Jaya, dari total 151 pasar, hanya 27 pasar yang aspek fisik bangunannya masih baik. Sisanya, 111 pasar dalam kondisi fisik bangunan rusak sedang atau berat dan hanya 13 pasar mengalami rusak ringan. (Poesoro,2007)

Kebersihan pasar tradisional terkait persoalan personal hyigene dan sanitasi lingkungan pasar tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan efektif untuk meningkatkan keterampilan cuci tangan yang benar dengan signifikan = 0,001.(Hayat, 2021)

Hasil penelitian terkait kandungan formalin pada pedagang tahu di Pasar Tradisional Kota Serang dari 43 tahu yang diperiksa menunjukkan 29 sampel tahu positif formalin (67,4%) dan (32,6%) negatif formalin.(Hayat & Darusmini, 2021)

Upaya pengelolaan limbah padat di pasar tradisional merupakan tindakan pengendalian risiko infeksi yang dilakukan oleh seluruh pedagang tahu di pasar tradisional untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan, melindungi pekerja dan masyarakat dari bahaya kesehatan.(Hayat, 2015) Hasil penelitian menunjukkan faktor pemungkin, penguat dan pendorong berpegaruh pada praktik pengolahan limbah padat.(Hayat, 2012)

Penentuan status kualitas air menggunakan metode Most Probable Number (MPN) dan metode STORET menunjukkan kadar total coliform sebesar (2400-9200 MPN/100 ml). Jumlah koliform tinja (1300-6400 MPN/100 ml). (Hayat & Kurniatillah, 2021) Pengelolaan kualitas air penting dalam rangka pencegahan penyakit berbasis air.

Kualitas air terkait kadar klor bebas (Cl2) penting di ketahui sebagai indikator kualitas logam air sehat di konsumsi oleh masyarakat, dimana rata-rata kadar klor bebas tersebut sebesar (0.28 mg/L-0,335 mg/L).(Hayat, 2020)

Pengendalian penyakit berbasis vektor penyakit seperti vektor lalat, nyamuk DBD, Malaria, kecoa perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian.(Hayat & Kurniatillah, 2009)

 

Kesimpulan

Pengembangan pasar sehat merupakan strategi sebagai upaya memperkuat biosekuriti pada rantai pangan yang akan menigkatkan keamanan pangan sejak produksi hingga konsumis, mendidik produsen pemasok, pedagang, konsumen, dan sebagai konsekuensinya, kesadaran mereka akan meningkat terhadap risiko keamanan pangan seperti kontaminasi silang, penularan penyakit-penyakit yang dihantarkan pangan dan perilaku berisiko tinggi.

 

Referensi

Hayat, F. (2012). Pengaruh predisposing factor, Enable factor, Reinforcing factor terhadap praktik keselamatan kerja pada tenaga kesehatan dalam pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Wilayah Kota Cilegon tahun 2011. In Unpad Repository. Unpad.

Hayat, F. (2015). Analisis faktor pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Faletehan Health Journal, 3, 146–151.

Hayat, F. (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM), 2(2), 64–69.

 

Hayat, F. (2021). THE EFFECT OF EDUCATION USING VIDEO ANIMATION ON ELEMENTARY SCHOOL IN HAND WASHING SKILL. Acitya: Journal of Teaching and Education, 3(1), 44–53.

Hayat, F., & Darusmini, D. (2021). ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN FORMALIN PADA PEDAGANG TAHU DI PASAR TRADISONAL KOTA SERANG. Jurnal Surya Muda, 3(2), 121–132.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2009). Situasi Malaria di Kabupaten Lebak. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 3(6), 259–263.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2021). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. The First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020), 198–200.