Artikel

HYIGENE SANITASI SEKOLAH

    Dibaca 379 kali PSKM Kesehatan Masyarakat

DWI NOVITA

 

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Faletehan

 

Latar Belakang

Lingkungan sekolah sehat merupakan suatu kondisi lingkungan sekolah yang dapat mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal serta membentuk perilaku hidup sehat dan terhindar dari pengaruh negatif.

Untuk menuju sekolah sehat maka perlu diupayakan peningkatan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik, sehingga memungkinkan dapat tumbuh dan berkembang yang harmonis dan optimal.

Permasalahan umum sanitasi sekolah di Indonesia diantaranya sumber Air bersih tercemar buangan limbah, karena letak septik tank sangat dekat dengan sumber air, SPAL dan drainase tidak ada, Sampah tidak terkelola, pembuangan sampah dengan menggali tanah, dan selebihnya dibakar, Jumlah MCK terlalu sedikit (Usaid,2006)

Hasil penelitian tentang sekolah sehat yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Tahun 2007 pada 640 SD di provinsi yang diteliti, sebanyak 40% belum memiliki kantin. Sementara dari yang telah memiliki kantin (60%) sebanyak 84.30% kantinnya belum memenuhi syarat kesehatan.

Kondisi lingkungan sekolah sebagai salah satu Tempat-Tempat Umum (TTU) yang digunakan anak-anak sekolah untuk menuntut ilmu, harus memenuhi persyaratan kesehatan, selain dapat mendukung proses pembelajaran diharapkan dapat membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak hanya pada peserta didik tetapi diharapkan dapat meluas pada keluarga dan masyarakat disekitar.

 

Hasil Kajian

Laporan Ditjen P2&PL Depkes RI tahun 2011 tentang Indikator sekolah memenuhi syarat kesehatan menunjukkan tahun 2008 (target 79%; capaian 71,03%) tahun 2009 (target 80%; capaian 46,11%), tahun 2010 (target 76%; capaian 74,81%).

Kondisi kesehatan pada anak usia sekolah dapat digambarkan berdasarkan hasil Riskesdas 2013, yaitu karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (25,8%), umur 5-14 tahun (15,4%), Period prevalence  Diare  usia 1-4 tahun (9,2%), usia 5-14 tahun (4,1%). Proporsi Kasus Campak Per 100.000 Penduduk Menurut Kelompok Umur Di Indonesia Tahun 2012, diantaranya usia  1-4 tahun (23,2%), usia 5-9 tahun (31%), usia 10-14 tahun (15,8%), umur  > 14 tahun sebesar (20,3%).  Pada tahun 2012, secara nasional Non Polio AFP Rate sebesar 2.77/100.000 populasi anak

Gambaran kondisi kantin sekolah pada umumnya memprihatinkan. Kebersihan kantin sekolah terkait persoalan personal hyigene. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan anak sekolah sebagai faktor meningkatkan keterampilan cuci tangan yang baik dengan signifikan = 0,001.(Hayat, 2021)

Hasil penelitian terkait jajanan sekolah mengandung formalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 43 tahu yang diperiksa menunjukkan positif formalin (67,4%) dan (32,6%) negatif formalin di pasar tradisional Kota Serang .(Hayat & Darusmini, 2021)

Upaya pengelolaan limbah padat di sekolah merupakan tindakan pencegahan risiko penyakit yang dilakukan oleh seluruh warga sekolah untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan.(Hayat, 2015) Hasil penelitian menunjukkan faktor manusia berpegaruh pada praktik pengolahan limbah padat.(Hayat, 2012)

Status kualitas air di sekolah penting dilakukan pengolahan dengan baik dan benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya kadar total coliform sebesar (2400-9200 MPN/100 ml). (Hayat & Kurniatillah, 2021) Pengelolaan kualitas air di sekolah penting sebagai pencegahan penyakit berbasis air.

Indikator kualitas air sehat berupa kadar klor bebas (Cl2) di konsumsi oleh anak sekolah, dimana rata-rata kadar klor bebas tersebut sebesar (0.28 mg/L-0,335 mg/L).(Hayat, 2020)

Pengendalian penyakit berbasis vektor penyakit di lingkungan sekolah terutama kantin sekolah seperti vektor lalat, nyamuk DBD, Malaria, kecoa perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian.(Hayat & Kurniatillah, 2009)

 

Kesimpulan

Kondisi lingkungan sekolah sebagai salah satu Tempat-Tempat Umum (TTU) yang digunakan anak-anak sekolah untuk menuntut ilmu, harus memenuhi persyaratan kesehatan, selain dapat mendukung proses pembelajaran diharapkan dapat membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak hanya pada peserta didik tetapi diharapkan dapat meluas pada keluarga dan masyarakat disekitar.

 

Referensi

Hayat, F. (2012). Pengaruh predisposing factor, Enable factor, Reinforcing factor terhadap praktik keselamatan kerja pada tenaga kesehatan dalam pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Wilayah Kota Cilegon tahun 2011. In Unpad Repository. Unpad.

Hayat, F. (2015). Analisis faktor pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Faletehan Health Journal, 3, 146–151.

Hayat, F. (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM), 2(2), 64–69.

Hayat, F. (2021). THE EFFECT OF EDUCATION USING VIDEO ANIMATION ON ELEMENTARY SCHOOL IN HAND WASHING SKILL. Acitya: Journal of Teaching and Education, 3(1), 44–53.

Hayat, F., & Darusmini, D. (2021). ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN FORMALIN PADA PEDAGANG TAHU DI PASAR TRADISONAL KOTA SERANG. Jurnal Surya Muda, 3(2), 121–132.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2009). Situasi Malaria di Kabupaten Lebak. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 3(6), 259–263.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2021). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. The First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020), 198–200.