Artikel

PENGELOLAAN AIR DAN KESEHATAN MASYARAKAT

    Dibaca 465 kali PSKM Kesehatan Masyarakat

PENGELOLAAN AIR DAN KESEHATAN MASYARAKAT

Oleh:

Alda Nuralfiani

Peminatan Kesehatan Lingkungan

Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan

 

Undang-Undang Republik Indonesai nomor 17 tahun 2019 tentang sumber daya air, menyebutkan bahw Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Air sebagai bagian dari Sumber Daya Air merupakan cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sesuai dengan amanat Pasal 33 ayaf (21 dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di dalam pasal itu dinyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Air merupakan kebutuhan yang amat penting bagi kehidupan. Dengan adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan Air yang cenderung menurun dan kebutuhan Air yang semakin meningkat, sumber daya Air perlu dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi secara selaras untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan antarwilayah, antarsektor, dan antargenerasi guna memenuhi kebutuhan rakyat atas Air.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, menyebtukan bahwa Air sebagai komponen lingkungan hidup akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh komponen lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumber daya alam (natural resources depletion).(Pemerintah & OTONOM, 2001)

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, menyebtukan bahwa Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Kondisi kualitas air sungi di Provinsi Banten, salah satunya adalah terkit kadar klor bebas (Cl2) di sungai Cidanua, menunjukkan bahwa empat titik sampling yaitu Desa Ranca Senggol Cinangka sebesar (0,335 mg/L), Jembatan Cikalumpang sebesar (0.28 mg/L), Jembatan Ciparay Cinangka sebesar (0,295 mg/L), Bendungan KTI Cinangka sebesar (0,335) melebihi baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan PP Nomor 82 tahun 2001 yaitu sebesar 0,03 mg/L.(Hayat, 2020) Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode STORET, menunjukkan bahwa kualitas air di Sungai Cibanten Provinsi Banten dengan status pencemaran sedang.(Hayat & Kurniatillah, 2021)

Disamping itu, pencemaran air disebabkan oleh mikroorganisme patogen, salah satunya oleh fecal koliform dan E.coli di Sungai Cibanten, Jumlah total coliform bervariasi antara 2400-9200 MPN/100 ml, dan Jumlah coliform tinja bervariasi antara 1300-6400 MPN/100 ml.(Hayat & Kurniatillah, 2021) Pengelolan air yang tidak baik menyebabkan terjadinya dampak terhadap kesehatan masyarakat. Peningkatan kasus penyakit water vektor borne disease. Kasus malaria di wilayah Provinsi Banten, Pada tahun 2006, kasus malaria tertinggi ditemukan di Puskesmas Bayah (20 kasus) dan terendah di Puskesmas Binuangan dan Puskesmas Cihara (tidak ada kasus). Ekosistem lokasi kejadian malaria di enam daerah endemis tersebut bervariasi mulai meliputi pantai, persawahan dan pegunungan.(Hayat & Kurniatillah, 2009)

Pencemaran air disebabkan oleh limbah industri, limbah domestik akibat faktor manusia. Faktor manusia tersebut diantaranya adalah berhubungan langsung dengan perilaku manusia. Pengetahuan (Pv=0,002) dan sikap (Pv=0,004) berhubungan dengan praktik pengelolaan limbah.(Hayat, 2015)

Perilaku manusia memiliki peranan penting dalam pengelolaan air. Salah satu intervensi terkait perubahan perilaku adalah edukasi masyarakat melalui perilaku cucitangan pakai sabun. Pengetahuan masyarakat dan praktik cucitangan pakai sabun yang baik dan benar dapat mencegah terjadinya penyakit berbasis air.(Hayat, 2021) Diperlukan edukasi yang berkelanjutan oleh pemerintah bersama masyarakat, sikap dan komitmen, terutama faktor predisposisi, reinforcing, enabling sebagai rangkaian komponen penting dalam perubahan perilaku.(Hayat, 2012)

 

Daftar Pustaka

Hayat, F. (2012). Pengaruh predisposing factor, Enable factor, Reinforcing factor terhadap praktik keselamatan kerja pada tenaga kesehatan dalam pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Wilayah Kota Cilegon tahun 2011. In Unpad Repository. Unpad.

Hayat, F. (2015). Analisis faktor pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Faletehan Health Journal, 3, 146–151.

Hayat, F. (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM), 2(2), 64–69.

Hayat, F. (2021). THE EFFECT OF EDUCATION USING VIDEO ANIMATION ON ELEMENTARY SCHOOL IN HAND WASHING SKILL. Acitya: Journal of Teaching and Education, 3(1), 44–53.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2009). Situasi Malaria di Kabupaten Lebak. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 3(6), 259–263.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2021). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. The First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020), 198–200.

Pemerintah, P., & OTONOM, K. (2001). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001. Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air.