Artikel

SUMBER DAYA AIR DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

    Dibaca 352 kali PSKM Kesehatan Masyarakat

SUMBER DAYA AIR DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

Oleh:

Dina Firdaningsih

Peminatan Kesehatan Lingkungan

Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan

 

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan dan prikehidupan manusia serta mahkluk hidup lainnya, sehingga harus dijaga kualitasnya untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang serta keseimbangan ekosistem. Sebagaimana sumberdaya alam pada umumnya, sumberdaya air merupakan modal dasar pembangunan nasional dengan fungsi sosial, fungsi lingkungan hidup dan fungsi ekonomi yang harus dapat berjalan secara selaras agar pemanfaatannya dapat berkelanjutan. Pada dasarnya pembangunan yang berkelanjutan merupakan ambang batas dari suatu strategi pembangunan pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah serta sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup merupakan salah satu langkah yang diambil dalam upaya mendayagunakan sumberdaya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti yang diamanatkan dalam Pancasila dan UUD RI Tahun 1945. (Wulandari & Ilyas, 2019)

Keberadaan Air sebagai sumber kehidupan masyarakat, secara alamiah, bersifat dinamis dan mengalir ke tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administratif. Keberadaan Air mengikuti siklus hidrologi yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca pada suatu daerah sehingga menyebabkan ketersediaan air tidak merata dalam setiap waktu dan setiap wilayah. Hal tersebut menuntut Pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan secara utuh dari hulu sampai ke hilir dengan basis Wilayah sungai.(Pemerintah & OTONOM, 2001)

Fakta menunjukkan bahwa sumber daya air yang ad saat ini mengalami degradasi disebabkan oleh pencemaran air. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, menyebtukan bahwa Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Pencemaran air di wilayah Provinsi Banten, berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air sungai oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Banten di sungai Cibanten misalnya, menunjukkan bahwa kualitas air di Sungai Cibanten  dengan status pencemaran sedang.(Hayat & Kurniatillah, 2021) Kondisi kualitas air sungai Cidanau terkait pemeriksaan kualitas klor bebas (Cl2) menunjukkan hasil yaitu rata-rata sebesar (0,28-0,335 mg/L) melebihi baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Standar WHO klorin bebas (Cl2) di dalam air sebesar 0,02 mg/L.(Hayat, 2020)

Pencemaran air disebabkan oleh fecal koliform dan total koliform di Sungai Cibanten. Melebihi baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan PP Nomor 82 tahun 2001 yaitu sebesar 1000/100 mL untuk fecal koliform dan 5000/100 mL untuk total koliform.(Hayat & Kurniatillah, 2021)

Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya. Kondisi kesehatan masyarakat di Kota Cilegon dapat digambarkan melalui proporsi kejadian penyakit berbasis air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus penyakit berbasis air di wilayah Kota Cilegon tertinggi terdapat pada kasus penyakit dermatitis, yaitu sebanyak 49,4%, gastritis sebanyak 28,8% dan kasus diare sebanyak 21,8%. (Hayat, 2020) Peningkatan kasus penyakit water vektor borne disease. Kasus malaria di wilayah Provinsi Banten, Kasus malaria tertinggi ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Bayah kabaupaten Lebak Banten (20 kasus). Ekosistem daerah endemis tersebut bervariasi mulai meliputi pantai, persawahan dan pegunungan.(Hayat & Kurniatillah, 2009)

Faktor manusia (80%) menjadi faktor penting dalam pencemaran air. Faktor manusia tersebut diantaranya adalah berhubungan langsung dengan perilaku manusia. Pengetahuan dan sikap (Pv=<0,005) berhubungan dengan praktik pengelolaan limbah. (Hayat, 2015) Faktor predisposisi, reinforcing, enabling sebagai faktor penting dalam perubahan perilaku.(Hayat, 2012)

Pentingnya peran perilaku manusia dalam pengelolaan sumber daya air. Intervensi edukasi masyarakat yang berkelanjutan melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) salah satunya adalah perilaku cucitangan pakai sabun. (Hayat, 2021) Efektifitas intervensi  pengetahuan masyarakat dan praktik langsung cucitangan pakai sabun mencegah terjadinya penyakit berbasis air. Diperlukan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya air dengan mengutamakan faktor perilaku manusia untuk menjaga kelestarian lingkungan perairan di Provinsi Banten.

 

Daftar Pustaka

Hayat, F. (2012). Pengaruh predisposing factor, Enable factor, Reinforcing factor terhadap praktik keselamatan kerja pada tenaga kesehatan dalam pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Wilayah Kota Cilegon tahun 2011. In Unpad Repository. Unpad.

Hayat, F. (2015). Analisis faktor pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon. Faletehan Health Journal, 3, 146–151.

Hayat, F. (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM), 2(2), 64–69.

Hayat, F. (2021). THE EFFECT OF EDUCATION USING VIDEO ANIMATION ON ELEMENTARY SCHOOL IN HAND WASHING SKILL. Acitya: Journal of Teaching and Education, 3(1), 44–53.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2009). Situasi Malaria di Kabupaten Lebak. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal), 3(6), 259–263.

Hayat, F., & Kurniatillah, N. (2021). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. The First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020), 198–200.

Pemerintah, P., & OTONOM, K. (2001). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001. Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air.

Wulandari, A. S. R., & Ilyas, A. (2019). Pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia: Tata Pengurusan Air dalam Bingkai Otonomi Daerah. Gema Keadilan, 6(3), 287–299.