Artikel

KUALITAS AIR SUNGAI DI KOTA CILEGON TAHUN 2021

    Dibaca 120 kali Kesehatan Masyarakat

KUALITAS AIR SUNGAI DI KOTA CILEGON

TAHUN 2021

 

Rismawati Ginting

 

Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Lingkungan

Universitas Faletehan

 

 

 

Latar Belakang

Kota Cilegon sebagai pusat pertumbuhan ekonomi mengalami pembangunan yang pesat di berbagai sektor sehingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga terus berkembang, maka terjadi peningkatan persaingan penggunaan air antar sektor (domestik, perkotaan dan industri). Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut, maka tidak luput dari perubahan tata ruang, lahan, pola hidup dan pola perekonomian. Perubahan tersebut berpengaruh pula terhadap sumber daya air. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan berdampak pada derajat kesehatan masyarakat.

 

Pembahasan

Kota Cilegon merupakan bagian dari Propinsi Banten dengan luas wilayah daratan mencapai 175,5 Km2. Secara geografis Kota Cilegon terletak pada ujung pulau jawa serta merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan sistem pulau jawa dan pulau sumatera. Sedangkan secara astronomis Kota Cilegon terletak antara koordinat Lintang Selatan 5052’24” – 6004’07” dan Bujur Timur 105054’05” – 106005’11” dan berada disebelah selatan garis ekuator atau garis kathulistiwa. (Renstra Kota Cilegon, 2016-2021)

Seiring dengan pertumbuhan penduduk Kota Cilegon, dinamika masyarakatnya telah memunculkan permasalahan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Tekanan terhadap sumber daya alam dan lingkungan semakin besar dan dikhawatirkan akan melampaui dari batas daya dukung dan dayang tampungnya. Kegiatan pembangunan Kota Cilegon apabila tidak memperhatikan masalah lingkungan tentunya akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem dan terjadinya degradasi lingkungan seperti tanah longsor, erosi, sedimentasi, penggundulan hutan, peningkatan lahan kritis, pencemaran tanah, air dan udara, abrasi pantai, instrusi air asin, serta penurunan debit air permukaan dan air tanah.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon tahun 2018, menunjukkan bahwa sebanyak 133 perusahaan yang terdiri dari industri kimia, pertambangan, energi dan konstruksi, berpotensi menghasilakan limbah B3 yang mungkin masuk kedalam badan air sungai. Perkiraan limbah B3 di Provinsi Banten tahun 2016 sebesar 660 ribu ton/tahun dan sebanyak 492 ton/tahun (75.5%) limbah B3 berasal dari Kota Cilegon. (BLHD Banten, 2018). Jika limbah B3 tersebut tidak dilakukan pengelolaan dengan baik akan berdampak pada derajat kesehatan masyarakat.

Perkembangan jumlah dan kegiatan industri yang menghasilkan limbah cair berdampak pada meningkatnya tekanan terhadap penurunan kualitas (pencemaran) sumber daya air. Selain itu juga buangan limbah domestik (rumah tangga) ikut memberi dampak terhadap penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas sumber daya alam.

Limbah Cair Kawasan Industri adalah limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan Kawasan Industri yang dibuang ke lingkungan hidup dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup. Sebagai gambaran terkait pencemaran air sungai oleh limbah Klor bebas (CL2). Penelitian yang dilakukan oleh Fauzul Hayat (2020) menunjukkan bahwa kadar klor bebas (Cl2) di empat titik sampling yaitu Desa Ranca Senggol Cinangka sebesar (0,335 mg/L), Jembatan Cikalumpang sebesar (0.28 mg/L), Jembatan Ciparay Cinangka sebesar (0,295 mg/L), Bendungan KTI Cinangka sebesar (0,335) melebihi baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan PP Nomor 82 tahun 2001 yaitu sebesar 0,03 mg/L dan Standar WHO klorin bebas (Cl2) di dalam air sebesar 0,02 mg/L.

Menurut Permen LH No.5 tahun 2014 tentang baku mutu air limbah menyatakan bahwa air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama. Sebagai gambaran pencemaran air sungai oleh limbah domestik berupa bakteri koliform. Penelitian yang dilakukan oleh Fauzul Hayat dan Nia Kurniatillah (2020), menunjukkan bahwa tingginya kadar Total koliform dan Fecal Koliform di sungai Cibanten. Jumlah total coliform bervariasi antara 2400-9200 MPN/100 ml. Total coliform maksimum ditemukan di hulu stasiun 1 (Desa Pabuaran) 9200 MPN/100 ml tercatat pada Maret-Mei 2017. Jumlah coliform tinja bervariasi antara 1300-6400 MPN/100 ml. Jumlah fecal coliform pada stasiun 1 (Desa Pabuaran) sebesar 6300 MPN/100 ml tercatat pada Agustus-Oktober 2017.

Limbah cair yang dilepas ke oleh sektor industri dan aktifitas perkotaan lainnya senyatanya mencemari badan air di daratan dan air laut. Sektor Industri Pengolahan sebagai penggerak utama perekonomian Kota Cilegon berimplikasi juga terhadap penggunaan air tanah. Air sebagai sumber daya alam yang utama dalam aktifitas perkotaan mengalami penurunan kuantitas. Ketersediaan air bersih dan air baku yang terbatas ini terus mengalami penurunan, mengingat Kota Cilegon tidak memiliki sumber air permukaan. Sumber air utama di Kota Cilegon diperoleh air tanah dan dari Waduk Kerenceng yang mendapat suplai dari wilayah Kabupaten Serang.

Pemeriksaan kualitas bakteriologis air bersih di wilayah Kota Cilegon berdasarkan peraturan Permenkes RI nomo 416 tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fauzul Hayat (2013) menunjukkan bahwa kelas kualitas bakteriologis air bersih dari 77 sampel terdapat 17 sampel dengan kualitas yang sangat amat jelek (> 2400), di wilayah kerja Puskesmas Grogol dan Pulomerak, kualitas bakteriologis dengan kategori klas amat jelek (1001-2004) sebanyak 3 sampel, terdapat  di wilayah kerja Puskesmas Pulomerak, Cilegon dan Ciwandan, Klas Kurang Baik (51-100) sebanyak 4 sampel terdapat di wilayah Kerja Puskesmas Jombang dan Cilegon. Adapun sampel dengan kualitas baik sebanyak 50 sampel.

Kondisi pencemaran air akibat kontaminasi bakteri Koliform akan berdampak pada derajat kesehatan masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Fauzul Hayat (2020) menunjukkan bahwa Kondisi kesehatan masyarakat di Kota Cilegon dapat digambarkan melalui proporsi kejadian penyakit berbasis air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus penyakit berbasis air di wilayah Kota Cilegon tertinggi terdapat pada kasus penyakit dermatitis, yaitu sebanyak 25.847 (49,4%),  gastritis sebanyak 15.042 (28,8%) dan kasus diare sebanyak 11.365 (21,8%).

Diperlukan upaya-upaya untuk membatasi pemanfaatan air tanah agar tidak terjadi defisit air tanah dan tingginya laju intrusi air laut. Pola kerjasama dengan daerah lain dan inovasi teknologi juga harus dikembangkan untuk memperoleh air bersih dan air baku guna menjaga sustainable development di semua sektor perekonomian Kota Cilegon.

Amanah Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum dengan memperhatikan pembangunan yang berkelanjutan yaitu upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Pemerintah daerah Kota Cilegon melalui Rencana Strategi (Renstra 2006-2021) melakukan beberapa upaya dalam rangka “Terwujudnya Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan” Adapun langkah-langkah arah pembangunan tersebut diantaranya adalah

  1. Mewujudkan tata lingkungan hidup yang berkelanjutan
  2. Mewujudkan pengelolaan sampah dan limbah B3 yang berkelanjutan
  3. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup
  4. Mewujudkan penaatan dan peningkatan kapasitas lingkungan hidup

 

Kesimpulan

Perkembangan jumlah dan kegiatan industri yang menghasilkan limbah cair berdampak pada meningkatnya tekanan terhadap penurunan kualitas (pencemaran) sumber daya air. Selain itu juga buangan limbah domestik (rumah tangga) ikut memberi dampak terhadap penurunan kualitas air. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan berdampak pada derajat kesehatan masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon (2018). Kota Cilegon Dalam Angka tahun 2017.

 

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten (2018). Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten tahun 2017.

 

Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon (2016). Rencana Strategi (Resntra 2016-2021).

 

Hayat F (2020). Analisis Kadar Klor Bebas (Cl2) Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Masyarakat Di Sepanjang Sungai Cidanau Kota Cilegon. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT MULAWARMAN. VOL.2, NO.2 DESEMBER 2020.

 

Hayat F, Kurniatillah N (2020). Microbiological and Water Quality Status of Cibanten River. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 514. Proceedings of the First International Conference on Social Science, Humanity, and Public Health (ICOSHIP 2020).

 

Hayat F (2013). Kondisi Kualitas Air Bersih di Kota Cilegon. Program Studi Kesehatan Masyarakat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Faletehan. Tersedia dari: https://stikesfa.academia.edu/FauzulHayat

 

Peraturan Menteri Kesehatan RI NomoR 416 tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air

 

Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air.

 

Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup